Posted by: zahrain on: November 11, 2008
Semesta, aku merinduinya
Sampaikan utuh pesanku,
jangan terputus!
Biar ia menjelma menjadi angin
yang membelaiku lembut
Biar ia menjelma menjadi rinai hujan
yang membuatku tenang
Biar ia menjelma menjadi detik, menit, dan jam
yang membuatku mengharapkan perjumpaan
Biar…
Sebab aku rindu!
[Masih lima purnama lagi menuju akhir penantian,
semoga sabar itu tetap ada.]
Jatinangor, Connect No.6, pkl.10.30.
Posted by: zahrain on: October 9, 2008
Ya Allah, jadikanlah kami ridha terhadap ketetapan-Mu.
Kuatkan hati kami
sehingga kami tidak ingin disegerakan terhadap sesuatu yang Kau tunda,
juga tidak ingin tertundanya sesuatu yang Kau segerakan.
Jangan Kau biarkan hati kami cenderung mencari apa pun
yang belum atau tidak Kau tetapkan sebagai milik kami.
Amin…
Jatinangor, Connect No.1 pkl.16.35
Posted by: zahrain on: September 16, 2008
Amazing!
Inilah foto terfavorit saya dari sekian banyak foto Rain Photography yang ada di sini.
Terima kasih sekali buat Kang Donny yang telah menemukan kumpulan foto-foto bertemakan hujan ini dan memberitahu saya
Jatinangor, Connect No.10, pkl.09.20
Posted by: zahrain on: September 16, 2008
Di bulan Ramadhan ini saya merasa sangat senang karena lagi-lagi SCTV menayangkan sinetron Para Pencari Tuhan (Jilid 2). Sejak awal kemunculan sinetron ini Ramadhan tahun lalu, saya sudah jatuh cinta, pada kisahnya, para pemainnya, dan pesan-pesan yang selalu sarat disampaikan. Bila dibandingkan dengan tayangan di stasiun-stasiun TV swasta lainnya yang dipenuhi acara hiburan para pelawak, sinetron ini jauh lebih bermanfaat dan sesuai sebagai tontonan saat sahur. Jika dicermati, kemunculan acara-acara hiburan yang diisi para pelawak itu benar-benar hanya bertujuan komersial tanpa ada nilai-nilai dakwah positif di dalamnya (meskipun ada, takarannya adalah 99% hiburan dan 1% dakwah).
Nah, mari kita bicara tentang sinetron Para Pencari Tuhan Jilid 2. Di antara tokoh-tokoh lainnya (Bang Jack, Chelsea, Barong, Juki, Udin, Pak Jalal, Asrul, Kalila, dan lain-lain), saya paling menyukai tokoh Aya dan Azzam. Sejak sinetron ini tayang tahun lalu, kisah kedua anak muda ini sepertinya memang sengaja diselipkan untuk menarik para penonton anak muda yang gemar menyaksikan bumbu-bumbu ‘cinta’ dalam sebuah sinetron. Dialog-dialog yang diracik antara Aya dan Azzam benar-benar cerdas sehingga berhasil menghadirkan sebuah kisah cinta yang membuat penasaran, ‘romantis tapi tidak harus erotis’. Itulah yang membuat saya menyukai setiap adegan yang menyoroti kedua tokoh ini
Konon, dikisahkan bahwa Aya dan Azzam bersahabat sejak mereka kecil. Di Para Pencari Tuhan Jilid 1 dikisahkan perjuangan Azzam dalam merebut hati Aya, juga perjuangan Aya untuk menyingkirkan segala keangkuhan dan kemunafikannya. Di Para Pencari Tuhan Jilid 2, hubungan mereka semakin dekat karena mereka telah saling mengetahui isi hati masing-masing. Namun demikian, konflik yang terjadi tetaplah dihadirkan, kini lebih ditekankan pada perjuangan Azzam untuk mengajak Aya menikah, sementara Aya masih saja keukeuh bahwa belum tiba waktu yang tepat untuk menikah. Nah lho… semakin seru saja cerita yang bergulir
Pada satu adegan, Aya dan Azzam sedang duduk berhadapan di ruang kerja Aya (mereka memang mendirikan sebuah perusahaan penerbitan bersama atas usulan Bang Jack). Aya sedang mengetik sesuatu di laptopnya, sedangkan Azzam sedang membaca sesuatu. Setelah mereka berdebat tentang sindiran Azzam tentang ‘masa muda harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, termasuk cepat-cepat menikah’, terjadi sebuah dialog yang membuat saya tersenyum-senyum sendirian:
Aya: (mengetik sesuatu di laptop, acuh tak acuh) “Kamu jangan terlalu tergantung sama aku. Kalo gak mau nunggu, cari aja cewek lain.”
Azzam: (terdiam sejenak dan menatap Aya tajam-tajam) “Sekadar informasi saja, aku memang mencintai kamu, tapi aku tidak tergantung sama kamu. Itu musyrik. Aku hanya tergantung sama Allah.” (berdiri dan hendak keluar ruangan)
Aya: (memandangi Azzam, tampak cemas) “Zam?”
Azzam: (berhenti melangkah tepat di depan pintu, membelakangi Aya, tapi diam saja)
Aya: “Kamu masih bisa sabar kan?”
Azzam: (tersenyum masam tanpa berbalik) “Sabar itu karakter terpenting yang harus dimiliki oleh seorang muslim.” (membuka pintu dan keluar)
See? Itulah kenapa saya cinta sekali dengan sinetron ini
Setidaknya saya banyak belajar saat menontonnya, dan adegan di atas kembali menguatkan hati saya… untuk bersabar.
Jatinangor, Connect No.10, pkl.08.55
Posted by: zahrain on: September 6, 2008
Enyah sudah hujan dini hari
meninggalkan sepi
juga harunya cakrawala
Sang Putri terjerembab
dari fatamorgana ke atas nyata
lalu merintih:
“Tuhan, adakah pelangi di sana?
Karena malam taksudi beranjak,
dan hujanpun takhendak kembali.”
Dipati Ukur, di sebuah warnet remang-remang, pkl.13.23
Posted by: zahrain on: September 2, 2008
Yakin tak bisa menyimpan kata
kutorehkan saja rindu pada
sebatang pohon senyap
kutuliskan rasa nyeri
dengan mesti
malam, angin, dan sebuah jarak
Depok, 2003
["Rindu" karya Muhammad Irfan Hidayatullah dalam buku kumpulan puisi Perjalanan yang Bulan, 2007]
Jatinangor, Connect No.7, pkl.11.47
Posted by: zahrain on: August 19, 2008
Tadi pagi, saat saya menaiki bus DAMRI Dipati Ukur-Jatinangor, kampus Unpad penuh sesak oleh para mahasiswa baru yang akan menjalani Pengenalan Kampus alias OSPEK Universitas. Di benak saya, kenangan empat tahun yang lalu terbayang kembali di depan mata. Ada saya di sana, di antara kerumunan mahasiswa-mahasiswa baru itu: sendiri, nervous, culun, berkeringat dingin, senang, takut, semangat, dan deg-degan. Betapa semua perasaan itu masih saya ingat.
Lalu di bus, saya mengamati diri saya sendiri yang sekarang: sendiri, kesepian, biasa-biasa saja, tidak istimewa, belum punya rencana masa depan yang jelas, sering tidak puas dengan apa yang saya jalani, tapi masih punya semangat dan tekad yang teguh untuk menjalani hidup.
Lalu pandangan saya kembali jatuh pada mereka, lulusan fresh dari SMA-SMA berbagai daerah di Indonesia, dan entah mengapa tiba-tiba saya merasa iri. Ingin rasanya kembali menjadi mereka, rindu rasanya menjalani OSPEK dan berkeliaran di lingkungan kampus, daripada susah-susah bekerja, mencari kerja, membanting tulang bekerja keras menghidupi diri agar mandiri dan membuat orang tua merasa bangga memiliki anak sarjana yang berguna.
Lalu saya tersenyum sambil menghela napas, dan berpikir:
“Sudahlah, toh bagaimanapun juga saya pernah menjadi mereka, dan itu saja sudah cukup membahagiakan. Semoga saya tidak akan pernah lupa bersyukur pada-Nya atas hidup yang saya jalani sekarang….”
Semua kenang-kenangan (yang manis) terbayang kembali.
Dan aku sadar bahwa semuanya akan dan harus berlalu.
Tetapi ada perasaan sayang akan kenang-kenangan tadi.
Aku seolah-olah takut menghadapi ke muka dan berhadapan dengan masa kini
dan masa lampau terasa nikmatnya.
(Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, 5 Agustus 1961)
Jatinangor, Connect No.9, pkl.10.10
[satu minggu sebelum Pak Dekan dan Pak Rektor mengesahkan saya menjadi Sarjana Sastra
]
Posted by: zahrain on: August 11, 2008
“Coba baca The Zahir. Buku yang bagus.”
Saya tersenyum menanggapi, “Dari dulu udah niat, tapi belum kesampaian juga.”
“Di dalamnya ada istilah Bank Budi….”
“Apa yang dimaksud dengan Bank Budi?”
“Kau tahu. Semua orang tahu.”
“Mungkin, tapi aku belum bisa menangkap sepenuhnya apa yang kaumaksud.”
“Istilah itu diperkenalkan pertama kali oleh seorang penulis Amerika. Bank Budi adalah bank paling kuat di dunia, dan kau bisa menemukannya di setiap aspek kehidupan.”
“Ya, tapi aku berasal dari negara yang tidak punya tradisi membaca. Jasa apa yang bisa kusumbangkan pada orang lain?”
“Sama sekali bukan masalah. Kuberi satu contoh: aku tahu kau penulis yang punya masa depan, dan suatu hari nanti kau akan sangat berpengaruh. Aku tahu karena, seperti kau, aku dulu juga punya ambisi, merdeka, jujur. Sekarang aku tidak lagi punya energi seperti dulu, tapi aku ingin membantumu karena aku belum bisa atau belum mau berhenti. Aku belum ingin pensiun. Aku masih memimpikan perjuangan hidup, kekuasaan, dan kemegahan.
“Aku mulai menyimpan di rekeningmu–bukan simpanan uang, tapi kontak. Kukenalkan kau pada orang ini dan orang itu, aku mengatur perjanjian-perjanjian, selama tidak melanggar hukum. Kau tahu kau berutang budi padaku, tapi aku tak pernah minta apa pun darimu.”
“Dan suatu hari…”
“Persis. Suatu hari, aku akan minta tolong padamu dan kau bisa saja mengatakan ‘Tidak’, tapi kausadari bahwa kau berutang budi padaku. Kaulakukan apa yang kuminta, aku terus membantumu, dan orang-orang lain melihat kau orang yang tahu membalas budi, jadi mereka pun mulai menyimpan di rekeningmu–selalu dalam bentuk kontak, karena dunia ini hanya terdiri atas kontak, tidak ada yang lain lagi. Mereka pun pada suatu hari akan minta bantuan padamu, dan kau akan menghormati dan membantu orang-orang yang pernah membantumu, dan, pada saatnya, jaringanmu akan melebar ke seluruh penjuru dunia, kau akan kenal semua orang yang perlu kaukenal, dan pengaruhmu akan tumbuh semakin besar.”
…
[disadur dari The Zahir karya Paulo Coelho, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Cetakan Kedua 2006, hlm.53-54]
“Itulah sebabnya saya senang berteman, dan enggan punya musuh.”
Itukah sebabnya kamu takingin kehilangan saya, agar utang budimu pada saya terbayar lunas? gumam saya dalam hati.
“Yah, betapa tidak mengenakkannya punya musuh,” komentar saya pelan.
“Dalam hidup kita selalu seperti itu,” lanjutnya. “Berteman, berbagi kebaikan, dengan harapan, langsung maupun tidak, pada suatu saat kebaikan itu akan kita terima kembali.”
“Selalu seperti itukah?”
“Ya. Selalu seperti itu.”
Lalu, apakah kita layak bertanya pada seseorang atau semua orang yang terlalu baik pada kita mengenai makna kebaikannya? Seperti, ‘kenapa kamu terlalu baik’? ‘Apakah untuk mendapatkan balasan kebaikan’? ‘Atau dengan maksud-maksud tertentu’? Perlukah pertanyaan-pertanyaan itu? Toh mereka, sadar ataupun tidak, sedang “menabung” di Bank Budi hidup kita, bukan? Dalam keyakinan kita, mereka juga sedang “menabung pahala” untuk kebahagiaan mereka di akhirat kelak. Kelak, Dia akan membalasnya dengan setimpal. Jadi, kenapa kamu masih saja berlaku seakan kamu wajib membalas segala kebaikan-kebaikan saya? Terpaksakah kamu?
“Kamu baik sekali.” ucap saya sambil tersenyum lebar.
“Ya. Kita kan teman.” balasnya dengan senyuman kecil.
“Ya. Terima kasih.”
Lalu kami mengucapkan salam perpisahan, seperti biasa, seakan-akan tanpa beban, klise:
“Sampai bertemu lagi, Teman.”
Kami masing-masing berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan, dan saya benar-benar ragu bahwa saya akan bertemu lagi dengan teman saya yang satu ini, di waktu-waktu berikutnya.
Jatinangor, Connect No.10, pkl.10.20
Posted by: zahrain on: June 10, 2008
Sejak dulu, jika sedang mengerjakan tugas atau apa pun di depan kompie, Winamp pasti aktif, mengalunkan lagu-lagu yang saya sukai. Biasanya saya setel dengan volume yang agak pelan dan pemutaran acak. Lagu-lagu yang saya putar beragam, sebagian besar saya pilih karena lirik dan musiknya mampu menenangkan pikiran, mencipta sebuah “dunia baru” yang merilekskan, juga menyingkirkan kepenatan saat mengerjakan tugas. Ada pula lagu-lagu yang mengingatkan saya pada memori-memori yang menyenangkan dan menimbulkan semangat. Akibatnya, saya bisa selalu tersenyum saat mendengarkan lagu-lagu tersebut. Yang jelas, rasanya bagi saya ada yang “kurang” bila saya tidak mendengarkan musik saat memelototi kompie.
Sejak mulai mengerjakan skripsi awal April lalu, saya pun sudah memilih-milih lagu yang “tepat” untuk menemani saya tiap kali menyusun skripsi. Seringkali, di sela kepenatan dan kebuntuan otak sehingga takmampu berpikir, saya menyandarkan punggung sejenak di kursi, menghela napas, memilih satu lagu, memejamkan mata sebentar, lalu saya dengarkan lagu itu sampai habis. Seringnya pula, kepenatan mulai mengendur dan saraf-saraf otak mulai aktif lagi berpikir.
Khusus sebagai teman mengerjakan skripsi, ada 165 lagu terpilih yang saya simpan selalu di Playlist, tidak saya ubah-ubah, yaitu lagu-lagu berikut ini:
Afgan – Terima Kasih Cinta
Agnes Monica & Yana Julio – Awan & Ombak
Agus “Snada” – Mengemis Kasih
Alter Bridge – Open Your Eyes
Andra & The Backbone – Main Hati
Andra & The Backbone – Selamat Tinggal Masa Lalu
Andra & The Backbone – Seperti Hidup Kembali
Anggun C.Sasmi – Snow on The Sahara
Ari Lasso – Mana Kutahu
Arwana – Lamunanku
Bimbo – Bermata tapi Takmelihat
Celtic – Bridget O’Malley (instrumental)
Celtic – Carrickfergus (instrumental)
Celtic – Eleanor Plunkett (instrumental)
Christina Aguilera – Hurt
Chrisye – Untukku
Cinema Paradiso (piano instrumental)
Coldplay – Fix You
Collective Soul – Forgiveness
Collective Soul – Run
D’Cinnamons – Ku Yakin Cinta
D’Cinnamons – Loving You
D’Cinnamons – Selamanya Cinta
Damien Rice – The Blower’s Daughter
Dave Matthews Band – Everyday (accoustic)
Dewa – Hadapi dengan Senyuman
Dewa Budjana – Wanita
Dewi Lestari – Fire & Ice
Dido – Here With Me
Dream Theater – Through Her Eyes
Ebiet G.Ade – Apakah Ada Bedanya
Ebiet G.Ade – Nyanyian Kasmaran
Ennio Morricone – A Mozart Reincarnated (piano instrumental)
Ennio Morricone – Love Affair Piano Solo (piano instrumental)
Ennio Morricone – Love Theme for Nata Violino E Flauto (piano instrumental)
Enrique Iglesias – Hero
Episentrum – Rembulan di Langit Hatiku
Eric Martin – I Love The Way You Love Me
Erwin Gutawa – Gelap ‘Kan Sirna (instrumental)
Eva Cassidy – Time After Time
Extreme – More Than Words
Fast Ball – Out of My Head
Firehouse – Love of A Lifetime
Five for Fighting – All I Know
Five for Fighting – Maybe
Foo Fighters – Walking After You
Freelance Hellraiser – Want You to Know
Gabrielle – Out of Reach
Gigi – Akhirnya
Gigi – Diva
Gigi – Rindu Rasul
Gita Gutawa – Sempurna (versi 2)
Goo Goo Dolls – Iris
Hoobastank – The Reason
James Blunt – Goodbye My Lover
James Blunt – You’re Beautiful
Jamie Cullum – Everlasting Love
Jamie Cullum – High & Dry
Jamie Cullum – Singing in The Rain
Jason Wade (Lifehouse) – You Belong to Me
Jikustik – Pandangi Langit Malam Ini
Joey McIntyre – Stay The Same
John Legend – Ordinary People
Josh Groban – You Are Loved
J-Rock – Kaucuri Lagi
Jubing Kristianto – Morning Rain (classic guitar)
Jubing Kristianto – Once Upon A Rainy Day (classic guitar)
Katon Bagaskara – Tidurlah Tidur
K-Ci & Jojo – All My Life
Keane – Hamburg Song
KLA – Romansa (accoustic)
KLA – Semoga (accoustic)
KLA – Tak Bisa ke Lain Hati (accoustic)
KLA – Yogyakarta
Layla Kaylif – Shakespeare in Love
Letto – Ephemera
Letto – Sampai Nanti, Sampai Mati
Letto – Truth, Cry, & Lie
Lighthouse Family – Lost in Space
Liquid Tension Experiment – Hourglass
Lobow – Kau Cantik Hari Ini
Louis Amstrong – What A Wonderful World
Mariah Carey & Whitney Houston – When You Believe
Matchbox 20 – If You’re Gone
Matchbox 20 – Push (accoustic)
Matchbox 20 – Unwell (accoustic)
Michael Jackson – Black or White
Michael Jackson – Give Thanks to Allah
Michael Jackson – You Are Not Alone
MLTR – I’m Gonna Be Around
MLTR – Nothing to Lose
MLTR – That’s Why (You Go Away)
MLTR – You Took My Heart Away
Mr. Big – To Be With You
Naff – Kaulah Hidup & Matiku
Natalie Imbruglia – Smoke
Nidji – Angel (Walk, Talk, Sing, & Bleed)
Nidji – Arti Sahabat
Nidji – Biarlah
Once – Kucinta Kau Apa Adanya
Opick – Takdir
Opick – Taubat
OST Across The Universe – Carol Woods & Timothy T.Mitchum – Let It Be
OST Across The Universe – Jim Sturgess – Across The Universe
OST Across The Universe – The Secret Machines – Flying
OST Across The Universe – T.V. Carpio – I Wanna Hold Your Hand
OST August Rush – Hector Pereira & Doug Smith – Dueling Guitars (guitar accoustic)
OST August Rush – John Legend – Someday
OST August Rush – Kaki King – Bari Improv (guitar accoustic)
OST August Rush – Steve Erdody & Jonathan Rhys Meyers – Something Inside
OST Ayat-Ayat Cinta – Rossa – Takdir Cinta
OST Forrest Gump (instrumental)
OST Juno – Barry Louis Pollisar – All I Want is You
OST Juno – Buddy Holly – Dearest
OST Juno – Kimya Dawson – Loose Lips
OST Juno – Kimya Dawson – Tire Swing
OST Juno – Michael Cera & Ellen Page – Anyone Else But You
OST Juno – The Moldy Peaches – Anyone Else But You
OST Love Actually – Wet Wet Wet – Love is All Around
OST Music & Lyrics – Hugh Grant & Haley Bennett – Way Back Into Love
OST Once – Glen Hansard – Fallen from The Sky
OST Once – Glen Hansard – Lies
OST Once – Glen Hansard & Marketa Irglova – Falling Slowly
OST Once – Glen Hansard & Marketa Irglova – The Swell Season (instrumental)
OST Once – Glen Hansard & Marketa Irglova – When Your Minds Made Up
OST Once – Interference – Gold
Padi – Sudahlah
Peterpan – Hari yang Cerah
Peterpan – Jauh Mimpiku
Peterpan – Menghapus Jejakmu
Phil Collins – You’ll Be in My Heart
Radiohead – Fake Plastic Trees
Raihan – I’tiraf
Rob Thomas – Ever The Same
Rob Thomas – Little Wonders
Robbie Williams – Misunderstood
Robbie Williams – She’s The One
Roxette – Milk Toast & Honey
Roxette – Wish I Could Fly
Sade – By Your Side
Sami Yusuf – My Ummah
Sami Yusuf – Try Not to Cry
Sarah McLachan – Angel
Shanty – Takkan Ada Lelaki Seperti Dia
Schizophones – Berdua
Sheila on 7 – Bertahan di Sana
Sheila on 7 – Terlalu Singkat
Sherina – Pelangiku
Siti Nurhaliza – Bukan Cinta Biasa
Snada – Belajar dari Ibrahim
Splender – I Think God Can Explain
The Beatles – Hey Jude
The Cangcuters – Hijrah ke London
The Cascades & J.Gummae – Rythm of The Rain
The Corrs – Everybody Hurts (accoustic)
The Police – Every Breath You Take
The Wonders – The Thing You Do
Titi DJ – Sang Dewi
Tohpati & Shakila – Lukisan Pagi
Toto – I Will Remember
Travis – Closer
Ungu – Cinta dalam Hati
Unknown Artist – Irreplaceable (male version)
Utopia – Hujan
Vina Panduwinata – Cinta
Yovie & Nuno – Sejuta Cinta
Yovie & Nuno – Sempat Memiliki
Sebagian lagu saya dapatkan dari pemberian teman-teman saya. Sebagian besar memberi karena saya memang merikwesnya. Ada yang memberi karena saya mampir ke rental VCD/DVD miliknya. Ada yang memberi karena saya diam-diam mengutak-atik kompie mereka
Ada pula yang memberi karena saya meminta mereka memberi saya lagu-lagu yang mereka sukai. Jadi, setiap kali saya dengar lagu yang mereka beri buat saya, saya serasa “disuntik” semangat oleh mereka secara langsung
) Karena itu, saya ucapkan terima kasih (yang sebanyak-banyak-banyaknya) teruntuk nama-nama di bawah ini.
- A Apit, penjaga rental Cinema Paradiso Batu Api, atas lagu-lagu soundtrack yang saya cari-cari (OST Across The Universe, OST August Rush, OST Juno, OST Once, Eva Cassidy, Jason Wade) dan piano instrumental yang “menyentuh” (Ennio Morricone)
- Kang Donny, pemilik selera musik yang unik, atas lagu Collective Soul, Ebiet G.Ade, Eric Clapton, Erwin Gutawa, Jubing Kristianto (all about THE RAIN!
), Liquid Tension Experiment, Mr.Big, Natalie Imbruglia, Forrest Gump, Phil Collins, Rob Thomas “Ever The Same”, Toto, dan Vina
- Teh Ari, atas lagu Arwana, Dave Matthews Band, Episentrum, Gabrielle, Josh Groban, Katon Bagaskara, Mariah Carey & Whitney Houston, Michael Jackson, Robbie Williams, Roxette, dan The Beatles
- A Irfan, pencinta musik jazz dan anime soundtrack, atas tiga instrumental Celtic yang benar-benar saya sukai
- Eris, pencinta Ahmad Dhani, atas lagu-lagu D’Cinnamons dan Schizophones
- Galuh, atas lagu Bimbo, Freelance Hellraiser, Gita Gutawa, Rob Thomas “Little Wonders”, dan Snada
- Leny, pencinta film zombie dan pembunuhan (?!), atas lagu Firehouse
- Neng Garnis, atas lagu Agnes Monica & Yana Julio
- Mas Amir Ma’ruf, pencinta nasyid, atas lagu-lagu Sami Yusuf
- Mira, atas lagu Enrique Iglesias dan The Cangcuters
- Rova, atas lagu Travis
Terima kasih semuanya…
Sekarang saya akan lanjutkan penulisan skripsi yang tertunda sekian lama, diiringi lagu-lagu di atas sebagai backsound. Heu… ^.^”
Hegarmanah Bandung, 7 Juni 2008, pkl.7.10
Posted by: zahrain on: May 26, 2008
Review:
Noe memang jagonya nulis lirik lagu. Setelah mendengar lagu ini dan mencermati liriknya, saya acungkan jempol buat Noe. Dalem banget, euy! Membuat saya tersenyum-senyum dan menghapus air mata yang sempat mengalir sebelumnya. Heuheuheu… *saya yang lagi kambuh cengeng-nya
* Lumayan memberikan kesejukan di hati yang sempat gundah sejak 17 Mei lalu ^.^ Juga membuat saya menghela napas dan berpikir:
“Sudahlah, engkau hanya taksengaja muncul dalam ingatannya, lalu ingatan itu akan segera terbang hanyut terbawa badai. Seperti masa lalu. Seperti ketakhadirannya di sini. Seperti kisah kalian yang takkan pernah selesai meski t’lah usai.”
* : ‘berlangsung sebentar saja’
Jatinangor, Connect No.7, pkl.8.49
Senandung Sahabat