Posted by: zahrain on: April 10, 2008
Pagi ini pagi yang cerah di Jatinangor. Begitu saya turun dari bus sekitar pukul 7.15, matahari sudah meraja di sini. Diiringi lantunan instrumental Gelap ‘Kan Sirna – Erwin Gutawa, saya melangkahkan kaki tanpa prasangka apa-apa. Menyeberang di sekitar Pangkalan Damri Jatinangor, pikiran saya entah di mana. Mengawang-awang tanpa berpijak ke tempat saya berada. Pandangan mata saya pun tidak fokus. Seperti melihat ke arah yang saya lihat, padahal entah apa yang sebenarnya sedang saya angankan sedang saya lihat. Hmm… semacam lamunan pagi yang tidak biasanya. Refleksi kegundahan hati saya sejak awal tahun ini, mungkin.
Ketika akan melewati pengecer koran pertama yang saya temui, tiba-tiba telinga saya menangkap sebuah suara yang memanggil nama akrab saya. Pikiran saya terjerembab ke bumi begitu saja. Pandangan mata saya mulai saya fokuskan pada arah sumber suara. Lalu… deg! Dia ada di sana, duduk di atas kursi tempat para pembeli batagor di depan kios makanan. Saya tercekat. Satu detik, dua detik… Dia tersenyum kecil sambil menatap saya, sementara saya masih terpaku. Syukurlah pada akhirnya saya berhasil menyunggingkan sebuah senyum, walau saya yakin terlihat kaku dan dipaksakan.
“Assalamu’alaikum!” sapa saya pelan.
Dia melebarkan senyuman tanpa beranjak dari tempat duduknya, “Wa’alaikum salam. Mau ke mana, Ci?”
“Mmm… ke kostan temen,” jawab saya sambil tetap memaksakan senyum.
“Oh…”
“Yu ah,”
Saya melambaikan tangan dan segera berbalik. Secepatnya saya ingin meninggalkan tempat itu dan dirinya. Hingga sampailah saya di sini, di warnet ini. Sapaan AC membuat tubuh saya menggigil, beku. Sebeku hati dan otak saya, sepertinya.
Dia bukan siapa-siapa, hanya seorang teman. Teman yang akrab dengan seseorang yang pernah begitu dekat dengan saya dulu. Namun, pertemuan pagi ini menohok saya lagi. Suara-suara bergema di benak saya, meneriakkan kata: “Egois! Egois! Egois!”, berulang-ulang dan terus bergema. Menerbitkan rasa bersalah di lubuk hati. Membuat saya menghela napas panjang, kebingungan. Salahkah saya? Salahkah saya menyikapi apa yang saya anggap tidak menyamankan saya?
Pertama kali saya mengenalnya lebih kurang tiga setengah tahun lalu, ia tampak sebagai sosok manusia yang humoris, cerewet, aktif di berbagai kegiatan kampus. Kami tidak akrab, hanya sering bertemu tidak sengaja tiap kali saya mencari sosok sahabat akrabnya di sekretariat DKM fakultas. Dulu kami hanya saling mengucap salam sambil berbagi senyum. Tak ada yang istimewa. Hingga sahabat akrabnya itu lulus dan ”hijrah” ke Jakarta untuk bekerja. Hingga pada suatu ketika sekitar 2 bulan yang lalu, kami tidak sengaja bertemu di Landmark saat diadakan pameran buku di sana.
Sejak itu, semua taklagi sama.
Awalnya biasa-biasa saja. Di sana kami mengobrol tentang kabar kami masing-masing, tentang kampus, tentang wisudanya (saat itu dia memang telah lulus), hingga dia menawari saya berbagai program komputer yang dimilikinya, lalu mengajak saya bertemu di kampus beberapa hari setelahnya. Saya mengiyakan saja tanpa prasangka apa pun. Anehnya, setelah pertemuan di kampus yang sangat biasa-biasa saja itu, sikapnya berubah. Dia mulai sering mengajak saya bertemu tanpa alasan yang jelas, juga mulai mengirimi saya SMS yang isinya membuat kening saya berkerut keheranan (bisa ditebak bukan seperti apa isinya? ^.^), juga mulai menelepon saya tanpa alasan yang jelas dan topik obrolan yang tidak penting (menurut saya). Ada apa ini?
Saya mulai berpikir ulang tentang sikapnya yang semakin hari semakin membuat saya tidak nyaman. Saya mulai mengabaikan semua SMS dan telepon-teleponnya. Saya mulai menghindar tiap kali saya melihat sosoknya di kampus. Saya mulai takut pada prasangka yang muncul di benak saya tentangnya. Hingga saya secara jujur mengatakan padanya bahwa saya merasa terganggu dengan sikapnya, bahwa saya berdo’a semoga hati kami dibersihkan dari segala prasangka. Dia pun meminta maaf, tapi setelahnya sikapnya tidak juga berubah pada saya. Jelas saya semakin merasa bingung, bahkan jengkel. Apalagi waktu itu pikiran saya sedang coba saya fokuskan untuk mencari topik skripsi yang sudah ditagih dosen.
Pada akhirnya, saya mengangkat telepon terakhirnya di suatu pagi pertengahan bulan lalu, dengan tanggapan yang teramat dingin. Terus terang itulah puncak kepenatan saya menghadapi semua sikap anehnya. Sejak itu, dia pun tidak pernah menghubungi saya lagi. Di kampus pun sosoknya tidak pernah terlihat. Baguslah, pikir saya waktu itu. Toh saya juga sedang fokus membenahi bahan-bahan usul penelitian skripsi saya, jadi tidak ada waktu bagi saya untuk sekadar memikirkan hal ini. Waktu pun berlalu, dan pagi ini saya bertemu dengannya lagi.
Ya Allah, egoiskah saya waktu itu? Padahal bisa saja saya secara jujur sejujur-jujurnya mengungkapkan ketidaknyamanan saya akan sikapnya, bisa saja saya memastikan padanya apa sebabnya ia bersikap seperti itu pada saya, bisa saja saya secara tegas memintanya menjaga jarak dari saya saat itu juga untuk membersihkan hati kami dari segala prasangka. Tapi, saya tidak melakukan itu semua. Duh, saya jadi merasa bersalah begini. *menghela napas panjang untuk kesekian kalinya* Saya tidak pernah ingin menyakiti orang lain sebenarnya, tapi seringnya saya tanpa sadar melakukan itu. Lalu, ketika saya sadar, hanya penyesalan yang ada, lalu kebingungan, apa yang harus saya lakukan selanjutnya?
Hmm… semoga dia bisa memaafkan saya jika saya memang telah membuatnya sakit hati atau terluka. Semoga Allah selalu menjaga hati dan pikiran kami, selalu..
Jatinangor, Connect No.10, pkl.09.51
October 31, 2008 at 4:08 am
Hey.. Lam kenal ya…. gw pernah liat di blog yang lo tulis katanya lo punya lagu instrumental ‘gelap kan sirna’ ya?
Gw boleh minta ga lagunya.. Gw dulu punya lagu itu tapi hilang beserta komputer gw yang harus diinstall ulang… Hiks..
Klo boleh gw bakal berterima kasih bgt…. Saat ini gw pengen jadiin lagu itu sebagai backsound buat pembacaan puisi upacara perpisahan gitu…
Please…..
Regards,
-mysti-