dunia putri hujan

Sabarlah Menanti

Posted by: zahrain on: September 16, 2008

Di bulan Ramadhan ini saya merasa sangat senang karena lagi-lagi SCTV menayangkan sinetron Para Pencari Tuhan (Jilid 2). Sejak awal kemunculan sinetron ini Ramadhan tahun lalu, saya sudah jatuh cinta, pada kisahnya, para pemainnya, dan pesan-pesan yang selalu sarat disampaikan. Bila dibandingkan dengan tayangan di stasiun-stasiun TV swasta lainnya yang dipenuhi acara hiburan para pelawak, sinetron ini jauh lebih bermanfaat dan sesuai sebagai tontonan saat sahur. Jika dicermati, kemunculan acara-acara hiburan yang diisi para pelawak itu benar-benar hanya bertujuan komersial tanpa ada nilai-nilai dakwah positif di dalamnya (meskipun ada, takarannya adalah 99% hiburan dan 1% dakwah).

Nah, mari kita bicara tentang sinetron Para Pencari Tuhan Jilid 2. Di antara tokoh-tokoh lainnya (Bang Jack, Chelsea, Barong, Juki, Udin, Pak Jalal, Asrul, Kalila, dan lain-lain), saya paling menyukai tokoh Aya dan Azzam. Sejak sinetron ini tayang tahun lalu, kisah kedua anak muda ini sepertinya memang sengaja diselipkan untuk menarik para penonton anak muda yang gemar menyaksikan bumbu-bumbu ‘cinta’ dalam sebuah sinetron. Dialog-dialog yang diracik antara Aya dan Azzam benar-benar cerdas sehingga berhasil menghadirkan sebuah kisah cinta yang membuat penasaran, ‘romantis tapi tidak harus erotis’. Itulah yang membuat saya menyukai setiap adegan yang menyoroti kedua tokoh ini :)

Konon, dikisahkan bahwa Aya dan Azzam bersahabat sejak mereka kecil. Di Para Pencari Tuhan Jilid 1 dikisahkan perjuangan Azzam dalam merebut hati Aya, juga perjuangan Aya untuk menyingkirkan segala keangkuhan dan kemunafikannya. Di Para Pencari Tuhan Jilid 2, hubungan mereka semakin dekat karena mereka telah saling mengetahui isi hati masing-masing. Namun demikian, konflik yang terjadi tetaplah dihadirkan, kini lebih ditekankan pada perjuangan Azzam untuk mengajak Aya menikah, sementara Aya masih saja keukeuh bahwa belum tiba waktu yang tepat untuk menikah. Nah lho… semakin seru saja cerita yang bergulir ;)

Pada satu adegan, Aya dan Azzam sedang duduk berhadapan di ruang kerja Aya (mereka memang mendirikan sebuah perusahaan penerbitan bersama atas usulan Bang Jack). Aya sedang mengetik sesuatu di laptopnya, sedangkan Azzam sedang membaca sesuatu. Setelah mereka berdebat tentang sindiran Azzam tentang ‘masa muda harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, termasuk cepat-cepat menikah’, terjadi sebuah dialog yang membuat saya tersenyum-senyum sendirian:

Aya: (mengetik sesuatu di laptop, acuh tak acuh) “Kamu jangan terlalu tergantung sama aku. Kalo gak mau nunggu, cari aja cewek lain.”

Azzam: (terdiam sejenak dan menatap Aya tajam-tajam) “Sekadar informasi saja, aku memang mencintai kamu, tapi aku tidak tergantung sama kamu. Itu musyrik. Aku hanya tergantung sama Allah.” (berdiri dan hendak keluar ruangan)

Aya: (memandangi Azzam, tampak cemas) “Zam?”

Azzam: (berhenti melangkah tepat di depan pintu, membelakangi Aya, tapi diam saja)

Aya: “Kamu masih bisa sabar kan?”

Azzam: (tersenyum masam tanpa berbalik) “Sabar itu karakter terpenting yang harus dimiliki oleh seorang muslim.” (membuka pintu dan keluar)

See? Itulah kenapa saya cinta sekali dengan sinetron ini :D Setidaknya saya banyak belajar saat menontonnya, dan adegan di atas kembali menguatkan hati saya… untuk bersabar.

Jatinangor, Connect No.10, pkl.08.55

Leave a Reply

Tentang Sang Putri

Menghitung Hari

September 2008
M T W T F S S
« Aug   Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

a

Kotak Sketsa

Blog Stats

  • 2,868 hits