dunia putri hujan

Semesta, aku merinduinya

Sampaikan utuh pesanku,

jangan terputus!

Biar ia menjelma menjadi angin

yang membelaiku lembut

Biar ia menjelma menjadi rinai hujan

yang membuatku tenang

Biar ia menjelma menjadi detik, menit, dan jam

yang membuatku mengharapkan perjumpaan

Biar…

Sebab aku rindu!


[Masih lima purnama lagi menuju akhir penantian,

semoga sabar itu tetap ada.]


Jatinangor, Connect No.6, pkl.10.30.

 

Ya Allah, jadikanlah kami ridha terhadap ketetapan-Mu.

Kuatkan hati kami

sehingga kami tidak ingin disegerakan terhadap sesuatu yang Kau tunda,

juga tidak ingin tertundanya sesuatu yang Kau segerakan.

Jangan Kau biarkan hati kami cenderung mencari apa pun

yang belum atau tidak Kau tetapkan sebagai milik kami.

Amin…

Jatinangor, Connect No.1 pkl.16.35

Amazing!

Inilah foto terfavorit saya dari sekian banyak foto Rain Photography yang ada di sini.

Terima kasih sekali buat Kang Donny yang telah menemukan kumpulan foto-foto bertemakan hujan ini dan memberitahu saya😉

Jatinangor, Connect No.10, pkl.09.20

Di bulan Ramadhan ini saya merasa sangat senang karena lagi-lagi SCTV menayangkan sinetron Para Pencari Tuhan (Jilid 2). Sejak awal kemunculan sinetron ini Ramadhan tahun lalu, saya sudah jatuh cinta, pada kisahnya, para pemainnya, dan pesan-pesan yang selalu sarat disampaikan. Bila dibandingkan dengan tayangan di stasiun-stasiun TV swasta lainnya yang dipenuhi acara hiburan para pelawak, sinetron ini jauh lebih bermanfaat dan sesuai sebagai tontonan saat sahur. Jika dicermati, kemunculan acara-acara hiburan yang diisi para pelawak itu benar-benar hanya bertujuan komersial tanpa ada nilai-nilai dakwah positif di dalamnya (meskipun ada, takarannya adalah 99% hiburan dan 1% dakwah).

Nah, mari kita bicara tentang sinetron Para Pencari Tuhan Jilid 2. Di antara tokoh-tokoh lainnya (Bang Jack, Chelsea, Barong, Juki, Udin, Pak Jalal, Asrul, Kalila, dan lain-lain), saya paling menyukai tokoh Aya dan Azzam. Sejak sinetron ini tayang tahun lalu, kisah kedua anak muda ini sepertinya memang sengaja diselipkan untuk menarik para penonton anak muda yang gemar menyaksikan bumbu-bumbu ‘cinta’ dalam sebuah sinetron. Dialog-dialog yang diracik antara Aya dan Azzam benar-benar cerdas sehingga berhasil menghadirkan sebuah kisah cinta yang membuat penasaran, ‘romantis tapi tidak harus erotis’. Itulah yang membuat saya menyukai setiap adegan yang menyoroti kedua tokoh ini🙂

Konon, dikisahkan bahwa Aya dan Azzam bersahabat sejak mereka kecil. Di Para Pencari Tuhan Jilid 1 dikisahkan perjuangan Azzam dalam merebut hati Aya, juga perjuangan Aya untuk menyingkirkan segala keangkuhan dan kemunafikannya. Di Para Pencari Tuhan Jilid 2, hubungan mereka semakin dekat karena mereka telah saling mengetahui isi hati masing-masing. Namun demikian, konflik yang terjadi tetaplah dihadirkan, kini lebih ditekankan pada perjuangan Azzam untuk mengajak Aya menikah, sementara Aya masih saja keukeuh bahwa belum tiba waktu yang tepat untuk menikah. Nah lho… semakin seru saja cerita yang bergulir😉

Pada satu adegan, Aya dan Azzam sedang duduk berhadapan di ruang kerja Aya (mereka memang mendirikan sebuah perusahaan penerbitan bersama atas usulan Bang Jack). Aya sedang mengetik sesuatu di laptopnya, sedangkan Azzam sedang membaca sesuatu. Setelah mereka berdebat tentang sindiran Azzam tentang ‘masa muda harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, termasuk cepat-cepat menikah’, terjadi sebuah dialog yang membuat saya tersenyum-senyum sendirian:

Aya: (mengetik sesuatu di laptop, acuh tak acuh) “Kamu jangan terlalu tergantung sama aku. Kalo gak mau nunggu, cari aja cewek lain.”

Azzam: (terdiam sejenak dan menatap Aya tajam-tajam) “Sekadar informasi saja, aku memang mencintai kamu, tapi aku tidak tergantung sama kamu. Itu musyrik. Aku hanya tergantung sama Allah.” (berdiri dan hendak keluar ruangan)

Aya: (memandangi Azzam, tampak cemas) “Zam?”

Azzam: (berhenti melangkah tepat di depan pintu, membelakangi Aya, tapi diam saja)

Aya: “Kamu masih bisa sabar kan?”

Azzam: (tersenyum masam tanpa berbalik) “Sabar itu karakter terpenting yang harus dimiliki oleh seorang muslim.” (membuka pintu dan keluar)

See? Itulah kenapa saya cinta sekali dengan sinetron ini😀 Setidaknya saya banyak belajar saat menontonnya, dan adegan di atas kembali menguatkan hati saya… untuk bersabar.

Jatinangor, Connect No.10, pkl.08.55

Enyah sudah hujan dini hari

meninggalkan sepi

juga harunya cakrawala

 

Sang Putri terjerembab 

dari fatamorgana ke atas nyata

lalu merintih:

 

“Tuhan, adakah pelangi di sana?

Karena malam taksudi beranjak,

dan hujanpun takhendak kembali.”

 

Dipati Ukur, di sebuah warnet remang-remang, pkl.13.23

Yakin tak bisa menyimpan kata

kutorehkan saja  rindu pada

sebatang pohon senyap

kutuliskan rasa nyeri

dengan mesti

 

malam, angin, dan sebuah jarak

 

Depok, 2003

 

[“Rindu” karya Muhammad Irfan Hidayatullah dalam buku kumpulan puisi Perjalanan yang Bulan, 2007]

 

Jatinangor, Connect No.7, pkl.11.47

Tadi pagi, saat saya menaiki bus DAMRI Dipati Ukur-Jatinangor, kampus Unpad penuh sesak oleh para mahasiswa baru yang akan menjalani Pengenalan Kampus alias OSPEK Universitas. Di benak saya, kenangan empat tahun yang lalu terbayang kembali di depan mata. Ada saya di sana, di antara kerumunan mahasiswa-mahasiswa baru itu: sendiri, nervous, culun, berkeringat dingin, senang, takut, semangat, dan deg-degan. Betapa semua perasaan itu masih saya ingat.

Lalu di bus, saya mengamati diri saya sendiri yang sekarang: sendiri, kesepian, biasa-biasa saja, tidak istimewa, belum punya rencana masa depan yang jelas, sering tidak puas dengan apa yang saya jalani, tapi masih punya semangat dan tekad yang teguh untuk menjalani hidup.

Lalu pandangan saya kembali jatuh pada mereka, lulusan fresh dari SMA-SMA berbagai daerah di Indonesia, dan entah mengapa tiba-tiba saya merasa iri. Ingin rasanya kembali menjadi mereka, rindu rasanya menjalani OSPEK dan berkeliaran di lingkungan kampus, daripada susah-susah bekerja, mencari kerja, membanting tulang bekerja keras menghidupi diri agar mandiri dan membuat orang tua merasa bangga memiliki anak sarjana yang berguna.

Lalu saya tersenyum sambil menghela napas, dan berpikir:

“Sudahlah, toh bagaimanapun juga saya pernah menjadi mereka, dan itu saja sudah cukup membahagiakan. Semoga saya tidak akan pernah lupa bersyukur pada-Nya atas hidup yang saya jalani sekarang….”

Semua kenang-kenangan (yang manis) terbayang kembali.
Dan aku sadar bahwa semuanya akan dan harus berlalu.
Tetapi ada perasaan sayang akan kenang-kenangan tadi.
Aku seolah-olah takut menghadapi ke muka dan berhadapan dengan masa kini
dan masa lampau terasa nikmatnya.

(Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, 5 Agustus 1961)

Jatinangor, Connect No.9, pkl.10.10

[satu minggu sebelum Pak Dekan dan Pak Rektor mengesahkan saya menjadi Sarjana Sastra🙂 ]

Tentang Sang Putri

Menghitung Hari

August 2016
M T W T F S S
« Nov    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Kotak Sketsa

Blog Stats

  • 8,953 hits

Top Posts

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.